oleh

Sulitnya Tangkap Ikan di Wilayah Natuna, Nelayan Kota Tegal Rugi Miliaran Rupiah

-Tak Berkategori-1.504 views

Jakarta, Geomaritimnews, – 30 kapal cantrang yang diberangkatkan dari Kota Tegal, Jawa Tengah ke perairan Natuna, harus pulang dengan tangan hampa. Kapal-kapal berukuran di atas 100 gross tonnage (GT) itu hanya mendapatkan ikan yang jauh dari target.

Sulitnya mendapatkan ikan, membuat pemilik kapal harus merugi ratusan juta rupiah. Sebab, biaya operasional untuk 1 kapal bisa mencapai Rp 500 juta hingga Rp 800 juta. Jika ada 30 kapal, maka kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal Riswanto mengatakan, rata-rata nelayan hanya mendapatkan ikan sekitar 15 ton. Padahal target minimal 30 ton selama melaut 2 bulan.

“Kapal saya ikut berpartisipasi bela negara bersama kapal lain. Namun sulit mendapatkan ikan,” kata Riswanto, melalui sambungan telepon, Jumat (19/6).

Sebelumnya, 30 kapal cantrang diberangkatkan dari Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari Kota Tegal pada 4 Maret lalu, dan kembali ke Tegal pertengahan Mei.

Riswanto berujar, dari empat hari pertama melaut di Natuna utara, kapalnya hanya mendapat 50 kg. Itu pun anak buah kapal (ABK) harus menebar jaring sejak subuh menjelang malam.

“Dalam waktu 4 hari pertama di laut Natuna utara hanya dapat ikan 50 Kg dari 7 kali menebar jaring, tapi memang hasilnya sulit,” kata dia.

Kapalnya yang hanya mendapat 15 ton ikan dan dilelang mendapat sekitar Rp 400 juta. Padahal ia mengeluarkan biaya operasional sampai Rp 800 juta untuk biaya solar dan perbekalan makan ABK.

“Hasil Rp 400 juta itu belum dipangkas bagi hasil untuk ABK, nakhoda dan lainnya yang mencapai Rp 95 juta. Kalau dihitung jelas rugi,” ujarnya.

Disampaikan Riswanto, kondisi merugi juga dialami seluruh kapal. Dengan hasil tangkapan ikan hanya rata-rata setiap kapal 15 ton dan terjual sekitar Rp 400 juta sudah tentu nelayan merugi.

“Ada yang rugi Rp 180 juta, Rp 200 juta, bahkan Rp 500 juta. Kalau ditotal 30 kapal mencapai miliaran rupiah,” kata dia

Menurutnya, alat tangkap cantrang tak bisa digunakan untuk mendapatkan hasil maksimal. Salah satunya karena cantrang tak mampu melawan arus perairan Natuna utara yang cukup deras.

“Bukti bahwa cantrang yang selama ini dilarang jelas tidak merusak lingkungan. Berbeda dengan alat trawl yang bisa melawan arus deras,” ujarnya.

Riswanto mengungkapkan, sejumlah nelayan cantrang kini sudah mulai kembali melaut ke perairan Jawa.

“Habis Lebaran sudah mulai pada berangkat ke perairan Jawa. Harapannya hasilnya bisa melimpah untuk menutup kerugian di Natuna,” pungkasnya.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.