oleh

Kisah Perjuangan Siswa Daerah Pesisir Dalam Menempuh Pendidikan

-Umum-1.966 views

Jakarta, Geomaritimnews, – Pada Tanggal 2 Mei ini yang bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional ini banyak dari siswa dari seluruh pelosok Indonesia menjalani pendidikanya dalam penuh perjuangan

Diantaranya adalah siswa dari daerah pesisir di Indonesia, jarak yang jauh serta medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi siswa daerah pesisir untuk mengenyam pendidikan

 

Berikut ini ada beberapa kisah dari siswa daerah pesisir Indonesia dalam perjuanganya dalam menempuh pendidikan

Siswi SMP yang Harus Menempuh Perjalanan 1 Jam Lewat Laut

Irda, siswi Kelas VIII, SMP Negeri 28 Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, setiap harinya harus menempuh mara bahaya demi bisa mengikuti pelajaran di kelas. Irda yang tinggal di kawasan pesisir di Desa Woru-Woru ini harus naik katinting (perahu kecil) untuk bisa mencapai sekolah yang terletak di Jalan Pesisir Barat, Desa Tambeanga. Meski Woru-Woru dan Tambeanga masuk Kecamatan Laonti, tiadanya akses jalan darat membuat para siswa SMP Negeri 28 Konsel harus menyusuri lautan demi bisa menuntut ilmu.

“Setiap hari naik perahu selama satu jam menyeberang ke Tambeanga, berangkat jam 07.00 masuk sekolah jam 08.00 WITA. Setiap berangkat muat 18 siswa bareng-bareng,” ujar Irda

Menurut Irda, deburan ombak di lautan menjadi “teman” yang mengiringinya pergi ke sekolah. Meski perahu yang dinaikinya tidak menyediakan alat pengaman, seperti baju pelampung (life jacket) sebagai antisipasi terjadi hal tak diinginkan di laut, Irda mengaku tidak pernah tebersit rasa takut dalam benaknya.

Karena itu, ia dan teman-teman lainnya merasa biasa saja ketika berangkat sekolah menggunakan perahu seadanya. “Naik perahu siswa bayar Rp 3.000 untuk berangkat dan pulang. Pulang sekolah, perahu sudah menunggu di Tambeanga,” ujar Irda.

 

Mengadu Nyali Naiki Jembatan Tarik Untuk Bisa Sekolah

Sejumlah pelajar di Nagari atau desa adat Limau Gadang Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menggunakan utasan roler atau jembatan tarik untuk menyambung akses yang ditujunya. Aksi itu dilakukan karena adanya perbaikan jembatan permanen yang sedang dalam pengerjaan di daerah itu.

Warga dan pelajar yang menggunakan roler baru dalam satu bulan terkahir ini mencapai panjang sekitar 100 meter dengan ketinggian 10 meter dari dasar arus sungai. Sebab, tidak akses yang bisa ditempuh selain jembatan roler tersebut.

Ada terdapat sekitar 900 kepala keluarga setiap hari yang menempu utasan jembatan roler tersebut. Di antaranya, digunakan dua warga kampung di Nagari Limau Gadang, yakni Kampung Limau Gadang Tinggi dan Kambung Limau Gadang.

Pelajar yang menempu saat sejumlah pelajar dari siswa SD setempat, karena jarak sekolah mereka dibatasi batang sungai tersebut.

Ilham (13) salah seorang mengakui, saat melintasi jembatan itu merasa ketakutan. Sebab, dengan milihat kondisi jembatan roler tersebut berada pada jarak yang jauh dan ketigian dasar sungai yang terlihat dalam.

“Kalau mau jujur ya takut juga. Sebab, jaraknya jauh dan cukup tinggi jika jatuh,”ujar Ilham yang menyosong arus air dengan menggunakan roler.

Menurut Ilham tidak ada pilihan alternatif lain yang bisa menghubung kampug mereka dengan sekolah. Sebab, jarak kampung mereka di batasi sebarang sungai.

“Kalau menempu air, kami harus membuka sepatu. Terkdang, baju bisa basah saat sekolah,” tutup Ilham.

Rutinitas Anak Nelayan Desa Jaring Halus

Anak-anak di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupatan Langkat, Sumatera Utara, tidak punya banyak pilihan. Di desa ini, jam pulang sekolah lebih awal dibandingkan sekolah yang ada di perkotaan.

Saat pagi hari, anak-anak yang berusia sekitar 6-12 tahun pergi ke sekolah. Setelah pulang sekolah, anak-anak biasanya bekerja atas perintah orang tua mereka.

Kebanyakan anak laki-laki setelah pulang sekolah membantu orang tua mereka bekerja, sedangkan anak perempuan biasanya menjaga adik mereka, mencuci, atau pun bermain di sekitar rumah. Kegiatan itu hampir setiap hari mereka lakukan saat pulang sekolah.

Di Desa Jaring Halus ini hanya ada satu sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Falah. Bangunan sekolah ini dapat dikatakan seperti sekolah panggung karena bangunannya yang mirip sekali dengan rumah panggung.

Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Falah ini hanya memiliki tiga ruangan. Dalam satu ruangan biasanya digabung menjadi dua kelas. Misalnya, anak kelas 1 dan kelas 2 belajar bersamaan dalam satu ruangan dengan materi berbeda tanpa penyekat ruangan.

Hal tersebut membuat suasana belajar menjadi tidak kondusif. Bukan hanya kegiatan belajar di dalam kelas yang tidak kondusif, namun juga saat di luar kelas. Sekolah mereka tidak mempunyai lapangan layaknya sekolah lainnya. Mereka pun tidak pernah melakukan upacara.

Jika ada kegiatan hari besar, mereka akan upacara di tepi pantai dengan membawa tiang bendera yang jauh dari kata layak. Mereka juga tidak pernah melakukan kegiatan olahraga siswa yang ada di sekolah lainnya. Keterbatasan itu membuat mereka pasrah akan keadaan mereka.

Karena di desa ini hanya ada satu sekolah, mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka saat mereka telah menyelesaikan tingkat SD. Jika mereka ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka mereka harus merantau atau keluar dari desa.

Kebanyakan anak nelayan di sini lebih banyak memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat SMP. Mereka berpikir hal itu hanya akan membuang-buang uang mereka. Mereka lebih memilih mencari ikan untuk mendapatkan uang.

Fikri, seorang siswa kelas 4 SD, adalah seorang anak nelayan yang memiliki cita-cita jadi dokter. Namun, ketika ditanya mengenai ihwal keinginannya setelah tamat SD, ia pun menjawab hanya ingin ikut mencari ikut di laut bersama bapak.

Keinginan Fikri untuk melaut seperti bapaknya sudah tertanam di pikirannya. Pulang sekolah maupun setelah tamat sekolah, ia harus membantu orang tua mencari uang.

Menyambung sekolah ke jenjang yang lebih tinggi rasanya menjadi suatu hal yang asing bagi masyarakat Desa Jaring Halus. Kebanyakan orang tua di desa ini menganggap bahwa takdir mereka tinggal di Desa Jaring Halus memanglah untuk berprofesi sebagai nelayan. Mereka akhirnya tidak berniat untuk menyekolahkan anak mereka ke tingkatan selanjutnya.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed