oleh

Banyak Sengketa di Laut Perbatasan, Laksdya Aan Kurnia Inginkan Nelayan Dapat Materi Bela Negara

-Tak Berkategori-2.222 views

Jakarta, Geomaritimnews, – Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya TNI Aan Kurnia mengatakan pihaknya ingin nelayan Indonesia yang berlayar di wilayah perbatasan mendapat materi bela negara.

Aan pun terinspirasi dengan China yang berusaha menempatkan nelayan mereka di wilayah sengketa, salah satunya di perairan Natuna Utara atau perairan Laut China Selatan.

“Jadi nelayan-nelayan kita juga harus kita bina. Harus ada strategi capacity,” kata Aan dalam sebuah diskusi yang disiarkan secara daring, Jumat (12/6).

Menurutnya, China tak hanya berkonflik dengan Indonesia di perairan Laut China Selatan, tetapi juga dengan negara lain seperti Filipina dan terbaru dengan Malaysia.

Aan menyebut pendekatan China di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif milik Malaysia itu adalah dengan cara mengirim sebanyak-banyaknya kapal nelayan.

“Mereka pendekatannya bukan militer, justru yang dikedepankan adalah kapal nelayan,” kata Aan.

Namun, kata Aan, di dalam kapal-kapal nelayan China itu justru ada kekuatan militer. Nelayan-nelayan yang berada di kapal itu juga sudah dilatih dengan semacam kegiatan bela negara.

Menurutnya, para nelayan China itu sudah tak lagi memikirkan untung rugi ikan yang didapat, melainkan seberapa jauh mereka bisa mengusai perairan negara lain.

“Sehingga mereka militan. Diberi insentif oleh pemerintah. Mereka bukan militer, tapi mereka terlatih. Karena kalau pendekatan militer China tahu bisa dikecam negara lain,” ujarnya.

Jenderal bintang tiga itu menyebut nelayan Indonesia seharusnya juga dilatih dan diberi insentif saat berlayar di wilayah sengketa. Nelayan yang berlayar di sana tak hanya sekedar mencari keuntungan, tetapi hadir menjaga wilayah negara.

“Di daerah yang belum selesai harusnya bukan nelayan biasa (yang berlayar), tapi yang harusnya punya sikap nasionalis. Mereka tidak utamakan nyari keuntungan tapi bagaimana hadir dan menjaga wilayah,” katanya.

Sebelumnya, Aan menyebut manuver China cenderung semakin provokatif di Laut China Selatan.

Untuk itu, Aan mengatakan Indonesia mendukung keputusan Permanent Court of Arbitration atau Mahkamah Arbitrase terkait sengketa Laut China Selatan karena adanya eskalasi di perairan itu.

“Sikap Indonesia ini menunjukkan keseriusan Indonesia terhadap meningkatnya eskalasi di Laut China Selatan belakangan ini yang dipicu dengan sikap asertif China dalam bentuk implementasi kegiatan-kegiatan yang cenderung provokatif,” kata Aan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.