oleh

Aktivis Hewan Lepas Lumba-Lumba Tawanan di Teluk Bali

Jakarta, Geomaritimnews, – Ketika setahun yang lalu, salah satu lumba-lumba dari pulau Bali, Indonesia dikurung pada kolam dangkal yang diklorinasi di sebuah hotel, untuk menghibur pengunjung dari seluruh dunia.

Rambo, melakukan atraksi untuk menghibur penonton dengan melompat melalui lingkaran.

Saat ini, Rambo, lumba-lumba hidung botol itu telah bebas berenang setelah dibawa ke tempat pusat rehabilitasi permanen pertama di dunia.

Hal tersebut diterangkan oleh pengurus Rambo. Proyek pusat rehabilitasi tersebut diprakarsai langsung oleh pemerintah dan para komunitas hak asasi perlindungan hewan di Bali.

“Itu model. Itu bisa diduplikasi. Dan kami juga mencoba melakukan itu di Eropa, di Italia dan di Kreta,” ucap Ric O’Barry, seorang aktivis hewan dan pendiri Proyek Lumba-lumba, badan amal yang mengelola pusat itu.

Para aktivis menyelamatkan empat lumba-lumba tahun lalu dan membawa mereka ke pusat di sebuah teluk di pulau tropis untuk perawatan, Rabu, (8/7)

“Ini lebih membuat stres bagi lumba-lumba di penangkaran daripada hewan lain yang akan kita lihat di kebun binatang,” tambah O’Barry, yang ditampilkan dalam film dokumenter pemenang penghargaan “The Cove” tentang penangkapan dan pembantaian lumba-lumba di Jepang.

Lebih dari 3.000 lumba-lumba di penangkaran di seluruh dunia sebagai bagian dari industri hiburan yang menghasilkan hingga 5,5 miliar dolar AS per tahun, sebuah laporan tahun 2019 oleh World Animal Protection mengatakan.

Mengembalikan lumba-lumba ke alam liar tergantung pada kesehatan mereka dan kemampuan untuk menangkap makanan dan berinteraksi dengan lumba-lumba lain.

“Seringkali mereka mematikan sonar ketika mereka ditahan di penangkaran, jadi itu adalah salah satu tugas utama tim di sini untuk mempersiapkan mereka untuk kehidupan mereka di alam liar,” jelas Femke Den Haas, yang menjalankan pusat rehabilitasi.

Lumba-lumba menggunakan sonar untuk bernavigasi di lautan dan juga untuk berkomunikasi satu sama lain.

Untuk O’Barry, 80, yang di masa lalu melatih lumba-lumba yang digunakan dalam serial TV “Flipper” sebelum berubah pikiran, membuka cagar alam Bali adalah langkah lain pada tujuan untuk mengakhiri kejahatan pada hewan.

“Ada ratusan aktivis yang menangani masalah ini sekarang. Ketika saya mulai melakukan ini 50 tahun yang lalu, orang-orang berpikir saya gila,” tutur O’Barry, yang berbicara dari Denmark.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed