oleh

Penampungan Air Radioaktif Penuh, Jepang Berencana Buang Limbah PLTA Ke Laut

-Tak Berkategori-2.162 views

Jakarta, Geomaritimnews, – Pemerintah Jepang pada Senin (3/2) lalu memberikan pengarahan kepada 28 pejabat dari 23 negara dan wilayah mengenai sebuah rencana yang direkomendasikan oleh Kementerian Perindustrian untuk membuang air radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke lautan.

Para pejabat tersebut mendapat pengarahan di Kementerian Luar Negeri di Tokyo tentang rencana pemerintah Jepang membuang sekitar 1 juta ton air di tangki penyimpanan yang semakin penuh di pembangkit nuklir itu.

Penyebabnya adalah, penampungan air radioaktif semakin penuh mengingat sekitar 170 ton air radioaktif harian digunakan untuk mendinginkan PLTN yang mengalami kebocoran inti nuklir setelah dihantam gempa bumi yang memicu tsunami pada 2011 lalu itu.

Operator pembangkit tersebut, Tokyo Electric Power Company Holdings Inc., memperkirakan bahwa penampungan itu akan mencapai kapasitasnya pada musim panas 2022 mendatang.

Pemerintah Jepang mengatakan bahwa di antara sejumlah opsi lainnya, termasuk menginjeksi air beracun itu ke dalam tanah, melepasnya ke atmosfer usai dijadikan uap terlebih dahulu, atau membentuknya menjadi benda padat kemudian menguburnya jauh di bawah tanah, membuangnya ke Samudra Pasifik atau dijadikan uap lalu melepasnya ke atmosfer tetap menjadi pilihan terbaik.

Pemerintah juga menyebutkan bahwa membuang air yang digunakan sebagai pendingin inti yang meleleh di PLTN itu ke Samudra Pasifik dapat dilakukan “dengan pasti” karena tingkat radiasinya dapat dipantau.

Sebelumnya, para anggota subkomite kementerian telah menyuarakan kekhawatiran tentang bagaimana sejumlah faktor berbeda dapat memengaruhi dampak pelepasan air yang terkontaminasi ke lautan, seperti pola cuaca dan arus laut itu sendiri.

Dan juga Air sisa pendinginan reaktor nuklir itu masih bersifat radioaktif dan diduga berpengaruh pada hewan dan biota laut. Yang tentu saja akan berbahaya jika hewan atau tumbuhan yang terkontaminasi kemudian dikonsumsi manusia.

Beberapa negara tetangga juga menyuarakan penolakan mereka atas gagasan untuk membuang air itu ke laut maupun atmosfer, dengan alasan kekhawatiran lingkungan.

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.