oleh

Tradisi Ubar Pukat, Ritual Mencuci Alat Tangkap Dari Bengkulu

Jakarta, Geomaritimnews, – Masih Banyak tradisi Nelayan tradisional Malabro ini melakukan kebiasaan yang belum diketahui publik dan masyarakat Bengkulu yang namanya tradisi Mengubar alat tangkap Pukat yang terbuat dari benang Medan ( Totoron ) yang sebagai alat tangkap nelayan untuk menangkap ikan di tengah lautan Bengkulu tersebut.

Ubar atau Mengubar alat tangkap Pukat ini sering dilakukan para nelayan tradisional ini saat hari libur yang tepatnya pada hari Jumat yang dianggap masyarakat pesisir hari yang sakral atau hari yang baik bagi nelayan tradisional malabro untuk mengubar atau ubar alat tangkap yang namanya Pukat tersebut.

Banyak alat tangkap nelayan tradisional yang di gunakan untuk menangkap ikan bagi nelayan seperti jaring atau rawe dan alat tangkap lainnya tapi alat tangkap Pukat ini berbeda dengan alat tangkap lainnya karena konon ceritanya Pukat yang terbuat dari benang Medan atau Totoron ini sebelum dibuat para nelayan harus menggunakan syaratnya ritual kecil oleh orang orang tua dahulunya.

Sebelum melakukan ubar pukat ini para nelayan harus melakukan perbaikan dulu pukat yang sobek atau rusak sehingga pas waktu untuk Mengubar pukat sudah siap diubar oleh kepala perahu tersebut.

Menurut Madi Kempe selaku kepala perahu mengatakan bahwa mengumbar atau ubar pukat ini memang sudah tradisi para leluhur dahulu yang mana setiap hari Jumat pukat sebagai alat tangkap nelayan harus di ubar agar pukat menjadi kuat dan tahan lama serta pukat bagus kembali saat menangkap ikan setelah melaut kembali,” Ujarnya

” Tradisi Ubar Pukat ini harus dilakukan paling lama sebulan sekali untuk di lakukan perbaikan pukat dan itupun sering kali dilakukan oleh para nelayan yang menggunakan alat tangkap Pukat tersebut,” Ungkap Madi Kempe, Sabtu (23/05) saat di temui.

Dikatakan Madi Kempe Sebelum Mengubar pukat alat tangkap ini semua Anak Buah Pukat harus kumpul semua sebelum pukat di masukan dalam air telah disiapkan untuk siap di ubarkan oleh para nelayan tersebut.

” Sebelum pukat di masukkan dalam bak itu sudah ada kulit kayu khususnya nama kulit pohon ubar yang sudah di tembuk halus sehingga kulit kayu itu mengeluarkan air coklat muda kekuningan dan campur rempa – rempa daun lainnya sehingga pukat saat di jemur air kulit kayu melekat di benang pukat sehingga kuat tersebut,” Kata Madi Kempe

Lanjut Madi setelah pukat di ubar lalu di jemur dan perbaiki pukat di jemur selama satu jam lebih biar air kulit kayu yang melekat di benang pukat sehingga pukat enak di labuh jika ketemu ikan di tengah laut,” Jelasnya.

Setelah ubar di dalam bak sudah siap di ubar pukat disini ada menariknya dan ritual untuk pukat di baca doa agar pukat yang ubar di mudahkan reziki dan lalu pukat jemur selama dua kali maka pukat dianggap sudah layak untuk di gunakan untuk.menangkap ikan kembali dan siap untuk pergi melaut kembali karena pukat sebagai alat tangkap sudah siap untuk menangkap ikan kembali,” tambahnya.

Masih kata Madi, ini cuman tradisi orang tua kami dahulu kami sebagai genarasi harus mengikutinya saja sehingga tradisi Ubar Pukat ini tidak hilang atau terderus dengan zaman sekarang sehingga nantinya genarasi selanjut juga ikuti tradisi orang orang terdahulu tersebut,” Tutupnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed